42 Hal yang Baiknya Tidak Dilakukan Ketika Nonton Film di Bioskop

1. Berisik.

2. Bertanya tentang cerita film ke penonton sebelah. Padahal kenal juga ngga. Minta no WA lagi.

3.Mengangkat kaki ke kursi depan.

4.Atau mengangkat telepon.

5. Teleponnya telepon penonton sebelah.

6. Makan nasi. Dengan lauk rendang. Pake nambah. Dan angkat kaki.

7. Abis itu teriak,”uda, tambo cie!”. Lihat poin 1.

8. Bermain air. Basah, cuy!

9. Atau bermain hati. Eaa.

10. Membuka google translate saat menonton film asing. Kan ada teksnya, mylop.

11. Tidur.

12. Ngorok pula. Lihat poin 1.

13. Nonton berdiri.

14. Sambil teriak-teriak,”Gerald!” “Ayok!” ini bukan konser Barasuara, cuy.

15. Memakai kacamata. Kacamata renang.

16. Minta film di-pause saat kebelet pipis.

17. Mengeja subtitle.

18. Duduk ga sopan. Misalnya, sambil duduk teriak,”bangsat!”. Ga sopan. Lihat poin 1.

19. Bermain galaksin.

20. Atau bermain pantun wene wene cap jempol. Lihat poin 1.

21. Memakai sarung. Membawa autan. Lalu melambaikan tangan ke arah kamera saat mulai ketakutan. Ini bukan uji nyali.

22. Melipat kaki. Ke arah tangan. Lalu berguling. Roll depan roll belakang.

23. Terlalu histeris.

24. Memakai baju yang glow in the dark hanya karena ingin diperhatikan.

25. Membawa bangku sendiri. tenang, harga tiket sudah termasuk tempat duduk kok.

26. Karena takut film horor, masuk ke ruang teater sambil membawa selimut.

27. Karena tahu kalau setannya akan muncul, berteriak,”penontoon siap siaaap!”

28. Kedinginan. Lalu berusaha mencari remote AC untuk menurunkan suhu.

29. Suhu-nya Suhu Yo.

30. atau suhu Curie. Waduh, mentang-mentang anak fisika.

31. Mabuk-mabukan.

32. Apalagi kalau mabuk durian.

33. Atau mabuk kekuasaan. Siaaap.

34. Membawa anak di bawah umur ke film-film dengan rating dewasa.

35. Sesaat sebelum film dimulai, teriak,”wah, gua udah nonton nih! AAAA BELOM NONTON!” ke penonton sebelah.

36. Duduk ga sesuai nomor kursi yang tertera pada tiket. Misalnya, dapet tiket dengan nomor kursi D 8, eh malah duduknya di depan layar. Pake bawa karpet pula. Mau tamasya?

37. Di depan pintu teater teriak,”Ya, kosong, kosong! Yok, UIN yok UIN! Langsung Jalan!” ini bukan angkot S10, cuy.

38. Membawa spidol permanen dan menuliskan “Sutedi pernah disini” di bangku.

39. Atau “Sutedi pernah disana”

40. Atau “sutedi pernah disini, disana, dimana-mana hatiku senang”

41. saat film selesai, berteriak,”We want more! We want more!”

42. Menulis 42 hal yang baiknya tidak dilakukan ketika nonton film di bioskop.

 

 

Random Malam Minggu

Mulai sekarang, agaknya kita tidak perlu lagi berpura-pura bahwa kita memang kolot dan cinta filsafat. Senang politk dan karya-karya klasik.

Penerimaan itu bukan saat semua baik-baik saja. Penerimaan terhebat adalah justru kala semuanya memburuk. Ketika kita mulai sadar akan ketidakberdayaan, dan kenyataan bahwa dalam hidup ada rasa pahit, disitulah saat yang tepat untuk memeluk semua yang telah terjadi.

Dalam melakukan kebaikan kita memang belum tentu akan menjadi signifikan. Tapi sudah pasti menghindari kita dari keburukan. Makanya, kalau ingin berbuat baik jangan kebanyakan mikir. Sebaliknya, kalau mau berbuat buruk, pikir ribuan kali.

Kecenderungan kita untuk diterima membuat kita kecewa. daripada berharap diterima, lebih baik berharap ditolak. Sama saja kan? Jika untuk mendapat “ya” kita perlu sepuluh kata “tidak” terlebih dahulu, maka ketika mendapat kata “tidak” jadinya senang, karena tahu kata “ya” semakin dekat. Kalau begitu, kuncinya adalah bertemu banyak orang.

Kata orang, lebih dari dua minggu cenderung murung, itu tanda depresi. Sialan, gua udah 4 tahun cenderung murung. Terhitung sejak awal kuliah. Kalau gitu, gua bukan depresi lagi, tapi apa dong? Tapi kalau dipikir-pikir gua kuat juga. Kalau orang biasa mungkin udah celeng. Nah, dapet satu kesadaran lagi kan, bib?

Rata-rata umur manusia saat ini sekitar 60-70 tahun. Kalau sekarang usia kita 21 tahun, maka masih ada sekitar 40-49 tahun. Masih terlalu lama untuk disebut sisa hidup. Dan kita tidak perlu lagi berpura-pura kalau kita tidak puas dengan apa yang ada sekarang. Dengan berbagai alasan, mulai dari yang heroik sampai pragmatis, kita tidak puas. Harusnya kehidupan bisa lebih baik dari ini. Baik bagi kita maupun bagi yang lain. Tapi bukan berarti juga kita menolak mengakui bahwa kita banyak khilaf dan takut. Kita takut, tapi tidak punya pilihan lain selain berani.

Di Iran sana, ada Ahmadinejad. Pemimpin yang berani dan sederhana. Tidak menerima gajinya sebagai kepala negara, melainkan hanya mengandalkan gajinya sebagi dosen. Tidak pula menggunakan fasilitas negara yang disediakan. Rumahnya pun masih sama seperti dulu sebelum menjabat presiden. Baginya, menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan bagi rakyat. seorang pemimpin haruslah setia pada rakyatnya. Saya jadi berpikir, untuk mendapat pemimpin seperti itu, harus seperti apakah kita?

wawancara: Dedy Setiawan

Oke guys, kali ini gua ingin menyajikan suatu hasil wawancara. Bukan. Bukan wawancara dengan diri sendiri kayak postingan lalu, melainkan hasil wawancara gua dengan seorang kakak kelas yang ketika diminta no Wanya, memberi no berawalan +82.

Seketika pikiran gua melanglang buana….

 

……………Kyuhyun?

 

……………Han Jie Eun (Song Hye Kyo)? kamu bahagia kan dengan pernikahanmu?

 

 

……………Rain? Rambutmu masih gondrong kan?

 

……………Roy Kiyoshi?  EEEEH KOK ROY KIYOSHI? MEMANGNYA KARMA THE SERIES ROAD TO KOREA?

 

 

 

Wawancara dilakukan via WA. Namun, karena beliau (cieilah beliau) orangnya sibuk, beberapa jawaban pertanyaan disarikan dari blog pribadi beliau (widih kaga kapok). Kalian bisa berkunjung ke www.litiumtitanat.wordpress.com. Anyway, Wawancara diedit sesuai kebutuhan. Daripada berpanjang lebar lagi, yuk kita mulai sesi wawancara kali ini.

 

Hi, kak! Langsung aja ya kita mulai. Ceritain dong awal mula kak dedy dapet beasiswa!

Awal mulanya sih waktu saya TA di LIPI, Puspitek. Saya dikasih rekomendasi. Tapi linknya saya mesti cari-cari sendiri.

Bagaimana dengan kehidupan diawal-awal pindah negara, kak?

Makanan! Urusan makanan adalah yang tersulit. Karena saya seorang Muslim, yang trully Muslim insya Allah hehe, jadi lumayan peduli kalau soal makanan. Di Daegu, terutama di kampus dan asrama saya, masih jarang yang menjual makanan halal, kecuali vegetarian. Jadi, yaa harus masak sendiri. Tapi alhamdulillah teman-teman Muslim disini sangat membantu. Terus terang, di dua hari pertama saya, saya cuma masak Indomie hehe.

(wah, mesti mulai belajar masak ini mah) *ngebatin*

Kalau untuk cuaca, ngga begitu bermasalah sih. Daegu termasuk kota yang panas untuk ukuran Korea. Tapi ngga sepanas Jakarta lah. Kalau kita biasa hidup di Malang, atau Lembang, suhunya kurang lebih sama dengan Daegu. Setiap harinya, selama saya disini, suhunya antara 0 sampai 7 derajat celcius.

 

(Yaelah. Gua terbiasa hidup di Ciputat. Cuacanya panas. Orang-orangnya juga panas. Panas lahir dan batin malah kalau udah kena macet. Ya kalau gitu doang mah remah sepahlah hidup di Daegu buat gua tuuh) *optimis* *ngebatinpart2*

Terus dalam bidang akademik, sangat signifikanlah. Professor dan teman-teman lab disini sangat ramah dan membantu. Di hari kedua, saya langsung dihadapkan dengan riset yang sangat menambah wawasan. Setiap minggunya, di hari jum’at, kami mengadakan group meeting. Membahas apa aja yang udah kami lakukan di lab selama seminggu, dan apa yang akan kami lakukan minggu depan. Ditambah lagi, professor memberi kami tugas untuk mereview paper-paper yang berhubungan dengan riset kami yang terbit tiga bulan terakhir.

Bener-bener kehidupan yang dinamis. Btw, setelah hampir sebulan menimba ilmu di DGIST, apa aja sih kak hal-hal yang berkesan?

Banyak. Gapapa nih diceritain panjang lebar?

Gapapa kok kak. Kita punya banyak waktu.

Oke, yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari aja ya. Pertama, birokrasi kampus.

Birokrasi di kampus ini (DGIST) sangat baik. Mulai dari pendaftaran, meski saya belum sah menjadi mahasiswa kampus tersebut, pelayanan diberikan dengan sangat maksimal. Mulai dari panduan dikirim ke email yang sangat sangat jelas, respon email yang super cepat (waktu itu saya pernah nanya tentang pembayaran pendaftaran, balasan dikirim 30 menit setelah saya mengirim email pertanyaannya), hingga pelayanan online yang tidak pernah membuat kita lelah.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepada pegawai yang mengantar saya ke tempat pengambilan kartu pelajar, yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari tempat awal.

“Why are you guys so accomodating, so kind, so serving?”

Lalu dia jawab,

“Its my job. I have to do this”. Dengan senyuman yang sangat ramah.

Ramahnya ngga sampe cubit-cubitan kan ya?

ehehehehehehehehe.

Kedua, tenaga pengajar. Professor disini sangat ingin mahasiswanya berkembang. Rata-rata professor disini sangat low profile. Meski begitu, semua mahasiswa sangat segan hehe, karena memang terlihat kharisma dari professor-professor tersebut. Beda deh. Pinternya beda. Semangat ngajarnya juga beda. Bersama Prof Chung, Hanya butuh dua minggu bagi saya untuk mengerti apa itu Fermi level dan probabilitas menemukan elektron di potensial tertentu.

Ketiga, teman-teman dan lingkungannya tentu saja.

Keempat, Hightech. Serius, disini internet of thingsnya sangat diaplikasikan. Hampir di setiap tempat kita temui teknologi canggih, yang jarang kita temui di Indonesia. Yaa saya yakin pasti ada, tapi yaa cuma dijadikan skripsi, atau lomba karya ilmiah.

Nah, bicara tentang hightech dan aplikasi. Contohnya?

Contohnya nih, student portal. Semua pelayanan akademik yang kita butuhkan bisa diselesaikan secara online di student portal. Butuh surat-surat, sertifikat, apapun, formatnya sudah tersedia, tinggal input sesuai kebutuhan, dan print. Tanpa perlu mondar-mandir mencari tanda tangan. Karena di setiap surat, ataupun sertifikat, sudah tercantum tanda tangan yang bersangkutan secara legal. Selain itu, hampir semua pelayanan hidup sudah terintegrasi mesin dan internet. Bahkan, yang paling sepele, tukar uang aja ada mesinnya. Jadi, ngga perlu repot-repot ke tukang pulsa atau pedagang kaki lima. Gitu.

Ngga perlu repot-repot jalan ke pesanggrahan juga ya.

Dasar anak UIN!

Ngomong-ngomong, rencana kedepannya apa nih kak?

Rencananya sih setelah S3 mau post doctoral dan jadi dosen di luar untuk beberapa tahun. Tujuannya buat nyiapin tabungan. Kalau langsung balik ke indo, keuangan saya bakal sangat di bawah standar, karena ga bakal bisa langsung PNS meski lulusan luar negeri.

Ga takut di-judge gitu?

Bodo amat sih. Toh, kerja di luar bukan berarti mengkhianati negeri sendiri. Tapi buat kasih jembatan bagi anak-anak indo untuk bisa kuliah di luar negeri.

Sekarang yang mengandai-andai dikit ah. Seandainya diminta untuk milih, mending jadi peneliti, atau jadi dosen UIN?

Hm, pilihan yang sulit. Tergantung keadaan UINnya sih. kalau masih sama kayak sekarang, saya pilih jadi peneliti. Itu kalau pilihannya cuma dua itu yaa.

(sebenernya tiga sih kak. Kak Dedy kan anak muda yang cerdas dan progresif, ngga berminat jadi kader PSI? Eaa…Apaan sih lu, bib) *ngebatinpart3*

Memangnya ada apa dengan keadaan UIN kak?

Saat ini, UIN masih fokus di infrastrukturnya. Belum bisa bangun pendidikan, penelitian, dan birokrasinya dengan sistematis. Sayangnya UIN ga bisa ngerjain tiga-tiganya sekaligus. Kalau UIN dalam 15 tahun ke depan udah bisa, minimal nyamain ITB yang sekarang, insya Allah saya mau jadi dosen di UIN. Bukan ga menghormati UIN, Cuma sayang aja ilmu dan pengalaman saya.

Ada pesan buat teman-teman yang sedang berusaha meniti jalan yang sama?

Buat yang pengen kuliah ke luar negeri, mungkin kelihatannya kuliah di luar itu keren dan sebagainya. Tapi persiapannya juga harus keren. Harus siap mental karena beban yang kita emban sangat berat. Seolah-olah nama Indonesia ada di kita. Kalau kita kenapa-napa, artinya orang lain ngecap Indonesia juga kenapa-napa. Lebih baik ga keluar negeri tapi baik-baik aja di Indo. Daripada keluar negeri tapi malah merusak nama indo sendiri.

Terakhir nih, kak. Harapan kak Dedy sendiri untuk tahun-tahun ke depannya selama di korea apa?

Harapan saya ga banyak. Semoga saya bisa tetap sehat jasmani dan rohani. Serta bisa publish beberapa paper.

Aamiin.

 

Q&A

Tok tok tok, assalamu’alaikum. Selamat pagi sobat-sobat menara gading aq. Oke, cukup. Kali ini gua mau adain Q&A sama diri gua sendiri. Ya abis ga ada wartawan yang mau nanyain sih. Akhirnya, gua nanya dan jawab sendiri deh. Langsung aja yuk, here they are:

  1. The Beatles atau The Rolling Stones?

Rolling Stones.

2.  Vespa atau Moge?

Vespa dong.

3. Suka kopi?

Suka banget!

4. Kopi hitam atau kopi susu?

Kopi hitam. Saya kalau kopi susu suka berasa ga lagi ngopi. Jadi kopi susu kalau lagi pengen minum susu aja.

5. Oh gitu. Kopi susunya pake es ga?

Kalau ga pake es, jadi kopi uu dong. Hehe lawakan kayak gini harusnya udah punah dari peradaban sih.

6. Bikin kata-kata tentang kopi dong!

Tidak ada yang lebih bijak dari kopi hitam. Ia tidak pernah bersikap manis. Tidak pula bicara hanya karena takut tidak bicara. Ia bahkan lebih bijak dari majikannya. keren ga? Wkwk.

7. Wkwk bisa bisa. Kalau pacar punya?

Kenapa? Kamu mau jadi pacar aku?

8. Merokok?

Bagaimana ya? Kadang merokok, kadang ngga.

9. Merokok kan ga baik?

Emang siapa yang bilang baik? saya bukan tipe yang bilang ngerokok ga ngerokok mati kok. Lagi pula ga baik itu hanya istilah lain dari realistis sih. Setidaknya itu yang ada dalam sistem nilai saya.

10. Penulis favorit?

Eka Kurniawan.

11. Why?

Tulisannya kuat dan berani. Out of the box namun tetap rendah hati.

12. Apa quote favoritmu dari Eka Kurniawan?

Banyak. Dia kan nulis novel, jadi bentuk quotenya kebanyakan dari tokoh yang dia buat. Tapi kalau harus memilih satu, aku akan pilih ini: Penulis dengan rezim hak ciptanya udah jelas kapitalis.

13. Dari dulu kayaknya kamu ngga suka ya kapitalis? Kenapa sih?

Ya iyalah. Kapitalis itu ngga punya sisi manusiawi sama sekali. Kalau ada orang bilang kapitalis udah jadi humanis, dia ngga paham kapitalis secara sungguh-sungguh. Atau mungkin bahan bacaannya hanya sepotong-potong. Mengutip dari motivator anu, atau penulis anu. Ngga belajar dan diskusi lagi sama para aktivis pergerakan yang referensinya lebih jelas. Kurang gaul, kurang membumi.

14. Tapi kan kamu sendiri sering diuntungkan dalam sistem ini? apa ga malu?

Hei, kata siapa saya diuntungkan? Lebih banyak dirugikan dong. Kan saya rakyat biasa. Bukan yang punya banyak apartemen kayak si anu. Lagi pula, betapa pun kita diuntungkan oleh sistem ini, tidak serta merta kita boleh mengatakan sistem ini sudah jadi humanis. Itu menyakiti perasaan orang-orang pinggiran dan melukai spirit pergerakan para aktivis terdahulu.

15. Terus tentang hak cipta?

Saya rasa manusia terlalu sombong dengan menganggap dirinya sebagi pencipta. Padahal manusia hanya menyalin, menghimpun, dan menyusunnya kembali. Seandainya saya seorang penulis, saya akan baik-baik saja apabila ada yang mau memfotokopi buku saya. Silahkan sebarkan seluas-luasnya jika memang ada manfaatnya (sepertinya mustahil sih). Asalkan tidak untuk memperkaya diri sendiri.

16. Oh begitu. Ya gapapa kalau kamu berpikiran demikian. Itu hak kamu. Btw, kenapa jadi serius gini ya? Yang santai-santai aja dong. Oke, coba sekarang kita mengkhayal sejenak. Seandainya kamu jadi perempuan, akan seperti apakah kamu kira-kira?

Haha. Emh mungkin saya akan jadi perempuan nyentrik yang suka dengan musik. Lalu naksir dengan lelaki yang ngga ganteng-ganteng amat tapi matang dan menarik. Sesekali saya akan minta diajak jalan-jalan naik vespa dan nonton konser. Ngga usah yang mahal-mahal. Kan kita pura-puranya anti kapitalis HAHA.

17. Ada impian kecil yang belum tercapai? Kalau ada ceritakan.

Ada. Manggung! Entah kenapa tiap liat orang beraksi di atas panggung, saya merasa bisa lakuin hal yang sama. Saya bisa main musik dan punya selera musik yang bagus. Jadi, saya merasa bisa lakuin sesuatu yang menghibur. Pengen banget pulang larut malam sambil nenteng bass abis manggung suatu saat. Abis itu masuk kerja layaknya manusia normal.

18. Ada nasihat yang ingin disampaikan?

Widih, nasihat. Siapa saya kasih-kasih nasihat? Hehe. Kalau boleh kasih nasihat sih saya bilang, jadilah orang yang sadar. Itu aja. Kalau kamu mahasiswa, sadarlah. Belajarlah. Ngga usah ngikutin passion ini itu yang terkesan rumit dan memberatkan. Belajarlah mencintai apa yang kamu hadapi. Kalau kamu anak fisika misalnya ya belajarlah mencintai fisika. Atau kalau kamu bukan mahasiswa, karyawan misalnya, ya sadarlah. Bekerjalah dengan tulus. Kamu mungkin bukan yang berpangkat tinggi. Tapi yang pangkatnya tinggi itu juga ga ada artinya kalau ga ada kamu. Jadi ga boleh rendah diri dan mengeluh. Itu aja sih.

Magnitudo

Di berita kita sering melihat liputan tentang gempa. Ketika terjadi gempa di suatu daerah, liputan tentang gempa tersebut akan masuk dalam berita. Mulai dari magnitudo gempa, kerusakan akibat gempa, dan korban jiwa. Namun, tahukah kamu apa itu magnitudo? Secara sederhana, magnitudo adalah angka yang mengkarakterisasi ukuran relatif suatu gempa. Magnitudo itu sendiri didasarkan pada pengukuran gerakan maksimum yang terekam oleh seismogram. Beberapa skala sudah didefinisikan, tapi yang paling sering digunakan adalah magnitudo lokal (ML), yang biasa disebut sebagai “magnitudo richter”, magnitudo gelombang permukaan (Ms), magnitudo gelombang badan (Mb), dan momen magnitude (Mw). Dari ketiga skala tersebut, yang paling memberikan gambaran mengenai gempa yang terjadi adalah Mw namun paling sulit untuk dihitung. Gitu deh mylop magnitudo itu. jangan tanya kenapa nulis ini nanti juga paham.

Kurang Mindfull

Tak terasa kini saya sudah menginjak semester 8 Fisika. Wow. Jadi ingat dulu ketika awal-awal kuliah saya pernah berujar.

“kenapa gua kuliah fisika ya?”

“ah, gua hanya perlu nilai C untuk bisa lulus.”

In reality, ada saja yang D. Sempat ingin pindah jurusan juga tapi karena satu dan lain hal akhirnya tidak jadi.

Sebetulnya, saya hanya kurang mindfull selama ini. Saya tidak sadar kalau saya adalah mahasiswa yang tugasnya belajar. Dalam pikiran saya, saya adalah seorang aktivis, penulis, atlet, musisi, dan lain-lain. Begitulah ketidaksadaran. Namun, ada bagusnya juga kurang mindfull. Saya jadi belajar banyak hal.

Setiap kesalahan adalah pendapatan yang terbaik. Begitulah kira-kira kata Jack Ma. Dan betul. Dengan melakukan kesalahan kita jadi tahu sesuatu yang doesn’t work.

Saya suka fisika. Sejak SMA, meskipun tidak rajin belajar, tapi saya suka fisika. Bohong kalau saya tidak suka fisika. Kalau saya bilang saya tidak suka fisika itu karena saya merasa hina di fisika. Saya tidak mampu menjawab soal-soal sehingga dalam beberapa mata kuliah saya harus bergantung pada orang lain. Sejujurnya, saya tertarik dengan bagaimana alam semesta ini bekerja tapi saya kurang mampu mengikutinya secara matematis.

Kini, setelah sadar dengan apa yang terjadi, dan jujur pada diri sendiri, saya mulai merangkak naik. Ternyata tidak sesulit bayangan saya. Saya jadi kagum juga, kurang mindfull saja bisa bertahan sejauh ini, apalagi dengan penuh kesadaran?

Ditambah lagi ketika saya melihat beberapa teman yang lain juga tidak terlalu paham dengan apa yang dipelajari. Saya jadi menyesal sudah merasa rendah diri.

Benarlah apa yang dikatakan Gus Mus, Orang akan tetap pandai selama ia mau belajar. Kalau ia berhenti belajar karena merasa sudah pandai, mulailah dia bodoh. Dalam versi saya barangkali bunyinya begini, orang akan tetap pandai selama ia sadar. Kalau ia berhenti belajar karena kurang sadar, mulailah ia bodoh.

Kesadaran itu penting. Kalau kurang sadar kita akan berlaku seperti orang yang tidak tahu prioritas. Dan orang lain akan memperlakukan kita layaknya orang bodoh yang cacat mental.

 

 

 

Berlari

Tulisan ini adalah tulisan lama di blog pribadi saya yang sudah tidak terurus. tapi gapapa deh ditulis lagi disini biar rame.

Salah satu kegiatan baru yang mulai gua lakukan di tahun 2017 ini adalah rutin berlari. Sebetulnya, ini melakukan kembali, karena tahun 2016 lalu, gua sudah rutin berlari…selama beberapa bulan. Gua punya target di tahun 2021 badan gua udah kayak Taylor Lautner. Dengan semangat #yuklariyuk #yukpunyabadankayakTaylorLautneryuk gua kembali rutin berlari.

Gua pun sering mengajak beberapa teman untuk lari bareng. Namun, mereka biasanya iya-iya doang. Tanpa aksi nyata. Akhirnya, gua lari sendiri. Resolusi ini kemudian dengan gilang gemilang tewas di tengah jalan.

Sebetulnya rutin berlari adalah resolusi tahun 2017 yang gagal dipenuhi di tahun 2016 yang sempat dimulai di tahun 2015 yang pernah dicanangkan di tahun 2014 mengingat di tahun 2011 gua adalah lelaki berbadan tegak karena sering berlari di lapangan bola. Sorry nih, gini-gini gua pemain terbaik classmeeting.

Tujuan awal gua berlari adalah untuk mengecilkan perut yang penuh inisiatif karena terus maju tanpa disuruh. Gua suka tercenung ketika pakai handuk selepas mandi. Perut gua buncit gengs. Banyak celana gua yang udah makin sempit gara-gara lingkar pinggang yang terus membesar. Maka, di tahun 2016, gua memutuskan untuk berlari, sebuah olahraga yang gua pikir paling murah di antara cabang olahraga lainnya.

Sebuah asumsi yang segera dipatahkan ketika gua ingin membeli sepatu lari.

“Ted, ini sepatu berapaan?” Tanya gua ketika melipir ke sp*rt st*tion di salah satu mall berinisial AEON.

“itu sejuta bib” jawab Tedi, santai.
“Se-juta? Gua menelan ludah,”itu sepatunya aja apa sama foto bareng Maudy Ayunda, Ted?”
“Se-sepatunya aja, bib.”
Gua kemudian beralih ke sepatu lain,”kalau yang ini berapaan Ted?”
“yang ini sejuta setengah, Bib…….Lho, Bib? Kok nyetopin Angkot, bib?”
Sepatu lari mahal-mahal, bray!
 Setelah sempat terlintas niat untuk lari dengan beralas daun pisang, gua akhirnya lari dengan sepatu futsal yang harganya relatif murah. Gua menyenangkan diri sendiri dengan bilang bahwa membeli sepatu adalah sebuah investasi. Namun ibarat main saham, investasi gua kala itu berbuah rugi. Karena tidak lama setelahnya, gua berhenti berlari. Gambaran memiliki badan seperti Taylor Lautner kini tampak seperti badan Taylor Swift kena diabetes.
Gua pun kembali bingung dengan celana yang semakin sempit. Tapi beberapa minggu kemudian, gua udah menemukan solusi cerdasnya. Solusi agar celana gua ga kesempitan lagi adalah…membeli celana baru. Cerdas kan?

Tahun 2015 dan 2016, rutin berlari masih terpampang di daftar resolusi gua, meski sekalipun ga pernah terjadi. Sepatu futsal yang sempat terbeli, jadi seperti barang rongsokan yang ga terpakai.

Namun pada akhir tahun 2017 ini, semangat untuk berlari kembali membara. Selain demi celana yang muat kembali, gua makin merasa bahwa tubuh ini ga sesehat ketika gua masih SMA. Semenjak masuk kuliah, frekuensi gua jatuh sakit semakin sering. Muka lesu terus. Gua jadi ga merasa keren lagi. Eh.
Maka, dengan sedikit ketampanan yang masih tersisa, dan tekad sebulat perut, gua memutuskan untuk kembali berlari.
Kebetulan, salah satu teman gua lagi punya resolusi yang sama. Kebetulan lagi, kosan dia deket banget sama Situ Gintung, area yang mendamaikan banget untuk lari sore-sore. Gua jadi punya semangat lebih.
Gua hanya ingin bisa lebih sehat. Demi celana yang muat kembali. Demi sepatu yang terpakai lagi. Dan demi merasa keren kembali. Eh.

 

 

Jujur

Akhir-akhir ini aku sedang tidak bisa menulis. Tidak tahu kenapa. Padahal ide begitu banyak di kepala, tapi bagaimana menuliskannya itu yang sulit. Biasanya aku tidak seperti ini.

Aku sudah menulis sekitar satu halaman lalu menghapusnya kembali karena aku merasa tulisan itu jelek. Tidak rapi dan logikanya tidak lurus. Memandangi halaman kosong di MS. Word bermenit-menit bukanlah hal yang jarang bagiku. Aku selalu bingung hendak menulis apa belakangan ini.

Tunggu dulu.

Hei, mendadak aku bisa menulis lagi! Tulisan ini buktinya. Biasanya aku berat sekali menuangkan apa yang ada di kepala. Tapi tidak demikian kali ini. Aku juga selalu takut dengan penilaian orang lain nantinya. Tapi untuk kali ini aku merasa lepas sekali.

………………Ooh aku tahu dimana masalahnya!

Menulis menjadi berat ketika kita tidak jujur. Tidak jujur dengan apa yang benar-benar ingin kita tuliskan. Padahal kalau yang kita tuliskan adalah hal-hal yang mewakili pemikiran dan perasaan kita niscaya menulis menjadi hal yang menyenangkan. Menjadi media curhat dan pelepas emosi. Belakangan ini aku memang sedang tidak jujur pada diri sendiri. aku mengalami kontradiksi-internal yang hebat.

Aku jadi teringat sebuah kalimat yang disampaikan Bang Radith dalam salah satu acara yang diadakan oleh IndiSchool kala itu. Bang Radith bilang bahwa tulisan yang baik itu berawal dari kegelisahan. Kini aku mengerti. Kegelisahan dan kejujuran adalah dua hal yang dekat. Kita akan mampu untuk menulis ketika kita jujur akan kegelisahan kita. Seperti kali ini, aku jujur dengan kegelisahanku mengenai kesulitan menulis, lalu aku kembali mampu menulis.

Selain itu, ternyata ikhlas juga penting. Kita tidak akan mampu menulis dengan konsisten kalau di hati kita masih ada niat-niat yang tidak lurus seperti: ingin diakui, ingin membuat buku yang best-seller, ingin terkenal dan sebagainya. Kita tidak akan kuat kalau begitu. Berbeda dengan ketika kita ikhlas.

Ketika kita ikhlas maka kita tidak lagi peduli dengan penilaian orang lain. kita juga tidak peduli apakah tulisan yang kita buat dibaca atau tidak karena kita sadar bahwa menulis saja itu sudah membuat kita tenang. Sama sekali tidak ada perasaan ingin membuktikan. Yang ada hanyalah niat baik. Niat baik untuk membantu. Atau setidaknya menjadi teman berbagi kegelisahan.

Ternyata untuk mampu menulis kita hanya perlu jujur.

 

 

Aku tunggu

Tok tok tok, Assalamu’alaikum, selamat malam teman-teman. Oke, perkenalkan aku H, admin di blog ini. Perkenalkan juga temanku D, otak dibalik lahirnya blog ini. Boleh jadi ada yang heran, kenapa pencerita? Jawabannya karena kami senang bercerita. Namun, suatu hari, ketika kami sedang asyik minum teh sambil ngobrol ngalor-ngidul, tercetuslah sebuah ide. Mengapa tidak membuat sebuah blog? daripada nyampah melulu di Facebook, Twitter, dan lain-lain, mengapa tidak menghimpunnya di satu tempat, sehingga tersusun rapi dan boleh jadi bermanfaat suatu saat? Seiring berjalannya waktu sejak hari itu, akhirnya, terciptalah blog ini.

Pada tulisan ini, aku pun mengajak kepada teman-teman yang juga senang bercerita untuk berbagi di blog ini. Ceritanya bebas. Boleh dengan gaya dan bahasa apa pun. Temanya juga bebas. Boleh politik, budaya, relationship, dan sebagainya. Barangkali dari celah cerita kalian ada manfaat yang bisa dipetik, atau kalau pun kalian menilainya nihil, setidaknya itu bisa menjadi bahan untuk kita bercengkrama lebih intim.

Well, aku tunggu tulisan kalian.