Berlari

Tulisan ini adalah tulisan lama di blog pribadi saya yang sudah tidak terurus. tapi gapapa deh ditulis lagi disini biar rame.

Salah satu kegiatan baru yang mulai gua lakukan di tahun 2017 ini adalah rutin berlari. Sebetulnya, ini melakukan kembali, karena tahun 2016 lalu, gua sudah rutin berlari…selama beberapa bulan. Gua punya target di tahun 2021 badan gua udah kayak Taylor Lautner. Dengan semangat #yuklariyuk #yukpunyabadankayakTaylorLautneryuk gua kembali rutin berlari.

Gua pun sering mengajak beberapa teman untuk lari bareng. Namun, mereka biasanya iya-iya doang. Tanpa aksi nyata. Akhirnya, gua lari sendiri. Resolusi ini kemudian dengan gilang gemilang tewas di tengah jalan.

Sebetulnya rutin berlari adalah resolusi tahun 2017 yang gagal dipenuhi di tahun 2016 yang sempat dimulai di tahun 2015 yang pernah dicanangkan di tahun 2014 mengingat di tahun 2011 gua adalah lelaki berbadan tegak karena sering berlari di lapangan bola. Sorry nih, gini-gini gua pemain terbaik classmeeting.

Tujuan awal gua berlari adalah untuk mengecilkan perut yang penuh inisiatif karena terus maju tanpa disuruh. Gua suka tercenung ketika pakai handuk selepas mandi. Perut gua buncit gengs. Banyak celana gua yang udah makin sempit gara-gara lingkar pinggang yang terus membesar. Maka, di tahun 2016, gua memutuskan untuk berlari, sebuah olahraga yang gua pikir paling murah di antara cabang olahraga lainnya.

Sebuah asumsi yang segera dipatahkan ketika gua ingin membeli sepatu lari.

“Ted, ini sepatu berapaan?” Tanya gua ketika melipir ke sp*rt st*tion di salah satu mall berinisial AEON.

“itu sejuta bib” jawab Tedi, santai.
“Se-juta? Gua menelan ludah,”itu sepatunya aja apa sama foto bareng Maudy Ayunda, Ted?”
“Se-sepatunya aja, bib.”
Gua kemudian beralih ke sepatu lain,”kalau yang ini berapaan Ted?”
“yang ini sejuta setengah, Bib…….Lho, Bib? Kok nyetopin Angkot, bib?”
Sepatu lari mahal-mahal, bray!
 Setelah sempat terlintas niat untuk lari dengan beralas daun pisang, gua akhirnya lari dengan sepatu futsal yang harganya relatif murah. Gua menyenangkan diri sendiri dengan bilang bahwa membeli sepatu adalah sebuah investasi. Namun ibarat main saham, investasi gua kala itu berbuah rugi. Karena tidak lama setelahnya, gua berhenti berlari. Gambaran memiliki badan seperti Taylor Lautner kini tampak seperti badan Taylor Swift kena diabetes.
Gua pun kembali bingung dengan celana yang semakin sempit. Tapi beberapa minggu kemudian, gua udah menemukan solusi cerdasnya. Solusi agar celana gua ga kesempitan lagi adalah…membeli celana baru. Cerdas kan?

Tahun 2015 dan 2016, rutin berlari masih terpampang di daftar resolusi gua, meski sekalipun ga pernah terjadi. Sepatu futsal yang sempat terbeli, jadi seperti barang rongsokan yang ga terpakai.

Namun pada akhir tahun 2017 ini, semangat untuk berlari kembali membara. Selain demi celana yang muat kembali, gua makin merasa bahwa tubuh ini ga sesehat ketika gua masih SMA. Semenjak masuk kuliah, frekuensi gua jatuh sakit semakin sering. Muka lesu terus. Gua jadi ga merasa keren lagi. Eh.
Maka, dengan sedikit ketampanan yang masih tersisa, dan tekad sebulat perut, gua memutuskan untuk kembali berlari.
Kebetulan, salah satu teman gua lagi punya resolusi yang sama. Kebetulan lagi, kosan dia deket banget sama Situ Gintung, area yang mendamaikan banget untuk lari sore-sore. Gua jadi punya semangat lebih.
Gua hanya ingin bisa lebih sehat. Demi celana yang muat kembali. Demi sepatu yang terpakai lagi. Dan demi merasa keren kembali. Eh.

 

 

Jujur

Akhir-akhir ini aku sedang tidak bisa menulis. Tidak tahu kenapa. Padahal ide begitu banyak di kepala, tapi bagaimana menuliskannya itu yang sulit. Biasanya aku tidak seperti ini.

Aku sudah menulis sekitar satu halaman lalu menghapusnya kembali karena aku merasa tulisan itu jelek. Tidak rapi dan logikanya tidak lurus. Memandangi halaman kosong di MS. Word bermenit-menit bukanlah hal yang jarang bagiku. Aku selalu bingung hendak menulis apa belakangan ini.

Tunggu dulu.

Hei, mendadak aku bisa menulis lagi! Tulisan ini buktinya. Biasanya aku berat sekali menuangkan apa yang ada di kepala. Tapi tidak demikian kali ini. Aku juga selalu takut dengan penilaian orang lain nantinya. Tapi untuk kali ini aku merasa lepas sekali.

………………Ooh aku tahu dimana masalahnya!

Menulis menjadi berat ketika kita tidak jujur. Tidak jujur dengan apa yang benar-benar ingin kita tuliskan. Padahal kalau yang kita tuliskan adalah hal-hal yang mewakili pemikiran dan perasaan kita niscaya menulis menjadi hal yang menyenangkan. Menjadi media curhat dan pelepas emosi. Belakangan ini aku memang sedang tidak jujur pada diri sendiri. aku mengalami kontradiksi-internal yang hebat.

Aku jadi teringat sebuah kalimat yang disampaikan Bang Radith dalam salah satu acara yang diadakan oleh IndiSchool kala itu. Bang Radith bilang bahwa tulisan yang baik itu berawal dari kegelisahan. Kini aku mengerti. Kegelisahan dan kejujuran adalah dua hal yang dekat. Kita akan mampu untuk menulis ketika kita jujur akan kegelisahan kita. Seperti kali ini, aku jujur dengan kegelisahanku mengenai kesulitan menulis, lalu aku kembali mampu menulis.

Selain itu, ternyata ikhlas juga penting. Kita tidak akan mampu menulis dengan konsisten kalau di hati kita masih ada niat-niat yang tidak lurus seperti: ingin diakui, ingin membuat buku yang best-seller, ingin terkenal dan sebagainya. Kita tidak akan kuat kalau begitu. Berbeda dengan ketika kita ikhlas.

Ketika kita ikhlas maka kita tidak lagi peduli dengan penilaian orang lain. kita juga tidak peduli apakah tulisan yang kita buat dibaca atau tidak karena kita sadar bahwa menulis saja itu sudah membuat kita tenang. Sama sekali tidak ada perasaan ingin membuktikan. Yang ada hanyalah niat baik. Niat baik untuk membantu. Atau setidaknya menjadi teman berbagi kegelisahan.

Ternyata untuk mampu menulis kita hanya perlu jujur.

 

 

Aku tunggu

Tok tok tok, Assalamu’alaikum, selamat malam teman-teman. Oke, perkenalkan aku H, admin di blog ini. Perkenalkan juga temanku D, otak dibalik lahirnya blog ini. Boleh jadi ada yang heran, kenapa pencerita? Jawabannya karena kami senang bercerita. Namun, suatu hari, ketika kami sedang asyik minum teh sambil ngobrol ngalor-ngidul, tercetuslah sebuah ide. Mengapa tidak membuat sebuah blog? daripada nyampah melulu di Facebook, Twitter, dan lain-lain, mengapa tidak menghimpunnya di satu tempat, sehingga tersusun rapi dan boleh jadi bermanfaat suatu saat? Seiring berjalannya waktu sejak hari itu, akhirnya, terciptalah blog ini.

Pada tulisan ini, aku pun mengajak kepada teman-teman yang juga senang bercerita untuk berbagi di blog ini. Ceritanya bebas. Boleh dengan gaya dan bahasa apa pun. Temanya juga bebas. Boleh politik, budaya, relationship, dan sebagainya. Barangkali dari celah cerita kalian ada manfaat yang bisa dipetik, atau kalau pun kalian menilainya nihil, setidaknya itu bisa menjadi bahan untuk kita bercengkrama lebih intim.

Well, aku tunggu tulisan kalian.