wawancara: Dedy Setiawan

Oke guys, kali ini gua ingin menyajikan suatu hasil wawancara. Bukan. Bukan wawancara dengan diri sendiri kayak postingan lalu, melainkan hasil wawancara gua dengan seorang kakak kelas yang ketika diminta no Wanya, memberi no berawalan +82.

Seketika pikiran gua melanglang buana….

 

……………Kyuhyun?

 

……………Han Jie Eun (Song Hye Kyo)? kamu bahagia kan dengan pernikahanmu?

 

 

……………Rain? Rambutmu masih gondrong kan?

 

……………Roy Kiyoshi?  EEEEH KOK ROY KIYOSHI? MEMANGNYA KARMA THE SERIES ROAD TO KOREA?

 

 

 

Wawancara dilakukan via WA. Namun, karena beliau (cieilah beliau) orangnya sibuk, beberapa jawaban pertanyaan disarikan dari blog pribadi beliau (widih kaga kapok). Kalian bisa berkunjung ke www.litiumtitanat.wordpress.com. Anyway, Wawancara diedit sesuai kebutuhan. Daripada berpanjang lebar lagi, yuk kita mulai sesi wawancara kali ini.

 

Hi, kak! Langsung aja ya kita mulai. Ceritain dong awal mula kak dedy dapet beasiswa!

Awal mulanya sih waktu saya TA di LIPI, Puspitek. Saya dikasih rekomendasi. Tapi linknya saya mesti cari-cari sendiri.

Bagaimana dengan kehidupan diawal-awal pindah negara, kak?

Makanan! Urusan makanan adalah yang tersulit. Karena saya seorang Muslim, yang trully Muslim insya Allah hehe, jadi lumayan peduli kalau soal makanan. Di Daegu, terutama di kampus dan asrama saya, masih jarang yang menjual makanan halal, kecuali vegetarian. Jadi, yaa harus masak sendiri. Tapi alhamdulillah teman-teman Muslim disini sangat membantu. Terus terang, di dua hari pertama saya, saya cuma masak Indomie hehe.

(wah, mesti mulai belajar masak ini mah) *ngebatin*

Kalau untuk cuaca, ngga begitu bermasalah sih. Daegu termasuk kota yang panas untuk ukuran Korea. Tapi ngga sepanas Jakarta lah. Kalau kita biasa hidup di Malang, atau Lembang, suhunya kurang lebih sama dengan Daegu. Setiap harinya, selama saya disini, suhunya antara 0 sampai 7 derajat celcius.

 

(Yaelah. Gua terbiasa hidup di Ciputat. Cuacanya panas. Orang-orangnya juga panas. Panas lahir dan batin malah kalau udah kena macet. Ya kalau gitu doang mah remah sepahlah hidup di Daegu buat gua tuuh) *optimis* *ngebatinpart2*

Terus dalam bidang akademik, sangat signifikanlah. Professor dan teman-teman lab disini sangat ramah dan membantu. Di hari kedua, saya langsung dihadapkan dengan riset yang sangat menambah wawasan. Setiap minggunya, di hari jum’at, kami mengadakan group meeting. Membahas apa aja yang udah kami lakukan di lab selama seminggu, dan apa yang akan kami lakukan minggu depan. Ditambah lagi, professor memberi kami tugas untuk mereview paper-paper yang berhubungan dengan riset kami yang terbit tiga bulan terakhir.

Bener-bener kehidupan yang dinamis. Btw, setelah hampir sebulan menimba ilmu di DGIST, apa aja sih kak hal-hal yang berkesan?

Banyak. Gapapa nih diceritain panjang lebar?

Gapapa kok kak. Kita punya banyak waktu.

Oke, yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari aja ya. Pertama, birokrasi kampus.

Birokrasi di kampus ini (DGIST) sangat baik. Mulai dari pendaftaran, meski saya belum sah menjadi mahasiswa kampus tersebut, pelayanan diberikan dengan sangat maksimal. Mulai dari panduan dikirim ke email yang sangat sangat jelas, respon email yang super cepat (waktu itu saya pernah nanya tentang pembayaran pendaftaran, balasan dikirim 30 menit setelah saya mengirim email pertanyaannya), hingga pelayanan online yang tidak pernah membuat kita lelah.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepada pegawai yang mengantar saya ke tempat pengambilan kartu pelajar, yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari tempat awal.

“Why are you guys so accomodating, so kind, so serving?”

Lalu dia jawab,

“Its my job. I have to do this”. Dengan senyuman yang sangat ramah.

Ramahnya ngga sampe cubit-cubitan kan ya?

ehehehehehehehehe.

Kedua, tenaga pengajar. Professor disini sangat ingin mahasiswanya berkembang. Rata-rata professor disini sangat low profile. Meski begitu, semua mahasiswa sangat segan hehe, karena memang terlihat kharisma dari professor-professor tersebut. Beda deh. Pinternya beda. Semangat ngajarnya juga beda. Bersama Prof Chung, Hanya butuh dua minggu bagi saya untuk mengerti apa itu Fermi level dan probabilitas menemukan elektron di potensial tertentu.

Ketiga, teman-teman dan lingkungannya tentu saja.

Keempat, Hightech. Serius, disini internet of thingsnya sangat diaplikasikan. Hampir di setiap tempat kita temui teknologi canggih, yang jarang kita temui di Indonesia. Yaa saya yakin pasti ada, tapi yaa cuma dijadikan skripsi, atau lomba karya ilmiah.

Nah, bicara tentang hightech dan aplikasi. Contohnya?

Contohnya nih, student portal. Semua pelayanan akademik yang kita butuhkan bisa diselesaikan secara online di student portal. Butuh surat-surat, sertifikat, apapun, formatnya sudah tersedia, tinggal input sesuai kebutuhan, dan print. Tanpa perlu mondar-mandir mencari tanda tangan. Karena di setiap surat, ataupun sertifikat, sudah tercantum tanda tangan yang bersangkutan secara legal. Selain itu, hampir semua pelayanan hidup sudah terintegrasi mesin dan internet. Bahkan, yang paling sepele, tukar uang aja ada mesinnya. Jadi, ngga perlu repot-repot ke tukang pulsa atau pedagang kaki lima. Gitu.

Ngga perlu repot-repot jalan ke pesanggrahan juga ya.

Dasar anak UIN!

Ngomong-ngomong, rencana kedepannya apa nih kak?

Rencananya sih setelah S3 mau post doctoral dan jadi dosen di luar untuk beberapa tahun. Tujuannya buat nyiapin tabungan. Kalau langsung balik ke indo, keuangan saya bakal sangat di bawah standar, karena ga bakal bisa langsung PNS meski lulusan luar negeri.

Ga takut di-judge gitu?

Bodo amat sih. Toh, kerja di luar bukan berarti mengkhianati negeri sendiri. Tapi buat kasih jembatan bagi anak-anak indo untuk bisa kuliah di luar negeri.

Sekarang yang mengandai-andai dikit ah. Seandainya diminta untuk milih, mending jadi peneliti, atau jadi dosen UIN?

Hm, pilihan yang sulit. Tergantung keadaan UINnya sih. kalau masih sama kayak sekarang, saya pilih jadi peneliti. Itu kalau pilihannya cuma dua itu yaa.

(sebenernya tiga sih kak. Kak Dedy kan anak muda yang cerdas dan progresif, ngga berminat jadi kader PSI? Eaa…Apaan sih lu, bib) *ngebatinpart3*

Memangnya ada apa dengan keadaan UIN kak?

Saat ini, UIN masih fokus di infrastrukturnya. Belum bisa bangun pendidikan, penelitian, dan birokrasinya dengan sistematis. Sayangnya UIN ga bisa ngerjain tiga-tiganya sekaligus. Kalau UIN dalam 15 tahun ke depan udah bisa, minimal nyamain ITB yang sekarang, insya Allah saya mau jadi dosen di UIN. Bukan ga menghormati UIN, Cuma sayang aja ilmu dan pengalaman saya.

Ada pesan buat teman-teman yang sedang berusaha meniti jalan yang sama?

Buat yang pengen kuliah ke luar negeri, mungkin kelihatannya kuliah di luar itu keren dan sebagainya. Tapi persiapannya juga harus keren. Harus siap mental karena beban yang kita emban sangat berat. Seolah-olah nama Indonesia ada di kita. Kalau kita kenapa-napa, artinya orang lain ngecap Indonesia juga kenapa-napa. Lebih baik ga keluar negeri tapi baik-baik aja di Indo. Daripada keluar negeri tapi malah merusak nama indo sendiri.

Terakhir nih, kak. Harapan kak Dedy sendiri untuk tahun-tahun ke depannya selama di korea apa?

Harapan saya ga banyak. Semoga saya bisa tetap sehat jasmani dan rohani. Serta bisa publish beberapa paper.

Aamiin.

 

Q&A

Tok tok tok, assalamu’alaikum. Selamat pagi sobat-sobat menara gading aq. Oke, cukup. Kali ini gua mau adain Q&A sama diri gua sendiri. Ya abis ga ada wartawan yang mau nanyain sih. Akhirnya, gua nanya dan jawab sendiri deh. Langsung aja yuk, here they are:

  1. The Beatles atau The Rolling Stones?

Rolling Stones.

2.  Vespa atau Moge?

Vespa dong.

3. Suka kopi?

Suka banget!

4. Kopi hitam atau kopi susu?

Kopi hitam. Saya kalau kopi susu suka berasa ga lagi ngopi. Jadi kopi susu kalau lagi pengen minum susu aja.

5. Oh gitu. Kopi susunya pake es ga?

Kalau ga pake es, jadi kopi uu dong. Hehe lawakan kayak gini harusnya udah punah dari peradaban sih.

6. Bikin kata-kata tentang kopi dong!

Tidak ada yang lebih bijak dari kopi hitam. Ia tidak pernah bersikap manis. Tidak pula bicara hanya karena takut tidak bicara. Ia bahkan lebih bijak dari majikannya. keren ga? Wkwk.

7. Wkwk bisa bisa. Kalau pacar punya?

Kenapa? Kamu mau jadi pacar aku?

8. Merokok?

Bagaimana ya? Kadang merokok, kadang ngga.

9. Merokok kan ga baik?

Emang siapa yang bilang baik? saya bukan tipe yang bilang ngerokok ga ngerokok mati kok. Lagi pula ga baik itu hanya istilah lain dari realistis sih. Setidaknya itu yang ada dalam sistem nilai saya.

10. Penulis favorit?

Eka Kurniawan.

11. Why?

Tulisannya kuat dan berani. Out of the box namun tetap rendah hati.

12. Apa quote favoritmu dari Eka Kurniawan?

Banyak. Dia kan nulis novel, jadi bentuk quotenya kebanyakan dari tokoh yang dia buat. Tapi kalau harus memilih satu, aku akan pilih ini: Penulis dengan rezim hak ciptanya udah jelas kapitalis.

13. Dari dulu kayaknya kamu ngga suka ya kapitalis? Kenapa sih?

Ya iyalah. Kapitalis itu ngga punya sisi manusiawi sama sekali. Kalau ada orang bilang kapitalis udah jadi humanis, dia ngga paham kapitalis secara sungguh-sungguh. Atau mungkin bahan bacaannya hanya sepotong-potong. Mengutip dari motivator anu, atau penulis anu. Ngga belajar dan diskusi lagi sama para aktivis pergerakan yang referensinya lebih jelas. Kurang gaul, kurang membumi.

14. Tapi kan kamu sendiri sering diuntungkan dalam sistem ini? apa ga malu?

Hei, kata siapa saya diuntungkan? Lebih banyak dirugikan dong. Kan saya rakyat biasa. Bukan yang punya banyak apartemen kayak si anu. Lagi pula, betapa pun kita diuntungkan oleh sistem ini, tidak serta merta kita boleh mengatakan sistem ini sudah jadi humanis. Itu menyakiti perasaan orang-orang pinggiran dan melukai spirit pergerakan para aktivis terdahulu.

15. Terus tentang hak cipta?

Saya rasa manusia terlalu sombong dengan menganggap dirinya sebagi pencipta. Padahal manusia hanya menyalin, menghimpun, dan menyusunnya kembali. Seandainya saya seorang penulis, saya akan baik-baik saja apabila ada yang mau memfotokopi buku saya. Silahkan sebarkan seluas-luasnya jika memang ada manfaatnya (sepertinya mustahil sih). Asalkan tidak untuk memperkaya diri sendiri.

16. Oh begitu. Ya gapapa kalau kamu berpikiran demikian. Itu hak kamu. Btw, kenapa jadi serius gini ya? Yang santai-santai aja dong. Oke, coba sekarang kita mengkhayal sejenak. Seandainya kamu jadi perempuan, akan seperti apakah kamu kira-kira?

Haha. Emh mungkin saya akan jadi perempuan nyentrik yang suka dengan musik. Lalu naksir dengan lelaki yang ngga ganteng-ganteng amat tapi matang dan menarik. Sesekali saya akan minta diajak jalan-jalan naik vespa dan nonton konser. Ngga usah yang mahal-mahal. Kan kita pura-puranya anti kapitalis HAHA.

17. Ada impian kecil yang belum tercapai? Kalau ada ceritakan.

Ada. Manggung! Entah kenapa tiap liat orang beraksi di atas panggung, saya merasa bisa lakuin hal yang sama. Saya bisa main musik dan punya selera musik yang bagus. Jadi, saya merasa bisa lakuin sesuatu yang menghibur. Pengen banget pulang larut malam sambil nenteng bass abis manggung suatu saat. Abis itu masuk kerja layaknya manusia normal.

18. Ada nasihat yang ingin disampaikan?

Widih, nasihat. Siapa saya kasih-kasih nasihat? Hehe. Kalau boleh kasih nasihat sih saya bilang, jadilah orang yang sadar. Itu aja. Kalau kamu mahasiswa, sadarlah. Belajarlah. Ngga usah ngikutin passion ini itu yang terkesan rumit dan memberatkan. Belajarlah mencintai apa yang kamu hadapi. Kalau kamu anak fisika misalnya ya belajarlah mencintai fisika. Atau kalau kamu bukan mahasiswa, karyawan misalnya, ya sadarlah. Bekerjalah dengan tulus. Kamu mungkin bukan yang berpangkat tinggi. Tapi yang pangkatnya tinggi itu juga ga ada artinya kalau ga ada kamu. Jadi ga boleh rendah diri dan mengeluh. Itu aja sih.

Magnitudo

Di berita kita sering melihat liputan tentang gempa. Ketika terjadi gempa di suatu daerah, liputan tentang gempa tersebut akan masuk dalam berita. Mulai dari magnitudo gempa, kerusakan akibat gempa, dan korban jiwa. Namun, tahukah kamu apa itu magnitudo? Secara sederhana, magnitudo adalah angka yang mengkarakterisasi ukuran relatif suatu gempa. Magnitudo itu sendiri didasarkan pada pengukuran gerakan maksimum yang terekam oleh seismogram. Beberapa skala sudah didefinisikan, tapi yang paling sering digunakan adalah magnitudo lokal (ML), yang biasa disebut sebagai “magnitudo richter”, magnitudo gelombang permukaan (Ms), magnitudo gelombang badan (Mb), dan momen magnitude (Mw). Dari ketiga skala tersebut, yang paling memberikan gambaran mengenai gempa yang terjadi adalah Mw namun paling sulit untuk dihitung. Gitu deh mylop magnitudo itu. jangan tanya kenapa nulis ini nanti juga paham.