Jujur

Akhir-akhir ini aku sedang tidak bisa menulis. Tidak tahu kenapa. Padahal ide begitu banyak di kepala, tapi bagaimana menuliskannya itu yang sulit. Biasanya aku tidak seperti ini.

Aku sudah menulis sekitar satu halaman lalu menghapusnya kembali karena aku merasa tulisan itu jelek. Tidak rapi dan logikanya tidak lurus. Memandangi halaman kosong di MS. Word bermenit-menit bukanlah hal yang jarang bagiku. Aku selalu bingung hendak menulis apa belakangan ini.

Tunggu dulu.

Hei, mendadak aku bisa menulis lagi! Tulisan ini buktinya. Biasanya aku berat sekali menuangkan apa yang ada di kepala. Tapi tidak demikian kali ini. Aku juga selalu takut dengan penilaian orang lain nantinya. Tapi untuk kali ini aku merasa lepas sekali.

………………Ooh aku tahu dimana masalahnya!

Menulis menjadi berat ketika kita tidak jujur. Tidak jujur dengan apa yang benar-benar ingin kita tuliskan. Padahal kalau yang kita tuliskan adalah hal-hal yang mewakili pemikiran dan perasaan kita niscaya menulis menjadi hal yang menyenangkan. Menjadi media curhat dan pelepas emosi. Belakangan ini aku memang sedang tidak jujur pada diri sendiri. aku mengalami kontradiksi-internal yang hebat.

Aku jadi teringat sebuah kalimat yang disampaikan Bang Radith dalam salah satu acara yang diadakan oleh IndiSchool kala itu. Bang Radith bilang bahwa tulisan yang baik itu berawal dari kegelisahan. Kini aku mengerti. Kegelisahan dan kejujuran adalah dua hal yang dekat. Kita akan mampu untuk menulis ketika kita jujur akan kegelisahan kita. Seperti kali ini, aku jujur dengan kegelisahanku mengenai kesulitan menulis, lalu aku kembali mampu menulis.

Selain itu, ternyata ikhlas juga penting. Kita tidak akan mampu menulis dengan konsisten kalau di hati kita masih ada niat-niat yang tidak lurus seperti: ingin diakui, ingin membuat buku yang best-seller, ingin terkenal dan sebagainya. Kita tidak akan kuat kalau begitu. Berbeda dengan ketika kita ikhlas.

Ketika kita ikhlas maka kita tidak lagi peduli dengan penilaian orang lain. kita juga tidak peduli apakah tulisan yang kita buat dibaca atau tidak karena kita sadar bahwa menulis saja itu sudah membuat kita tenang. Sama sekali tidak ada perasaan ingin membuktikan. Yang ada hanyalah niat baik. Niat baik untuk membantu. Atau setidaknya menjadi teman berbagi kegelisahan.

Ternyata untuk mampu menulis kita hanya perlu jujur.

 

 

Aku tunggu

Tok tok tok, Assalamu’alaikum, selamat malam teman-teman. Oke, perkenalkan aku H, admin di blog ini. Perkenalkan juga temanku D, otak dibalik lahirnya blog ini. Boleh jadi ada yang heran, kenapa pencerita? Jawabannya karena kami senang bercerita. Namun, suatu hari, ketika kami sedang asyik minum teh sambil ngobrol ngalor-ngidul, tercetuslah sebuah ide. Mengapa tidak membuat sebuah blog? daripada nyampah melulu di Facebook, Twitter, dan lain-lain, mengapa tidak menghimpunnya di satu tempat, sehingga tersusun rapi dan boleh jadi bermanfaat suatu saat? Seiring berjalannya waktu sejak hari itu, akhirnya, terciptalah blog ini.

Pada tulisan ini, aku pun mengajak kepada teman-teman yang juga senang bercerita untuk berbagi di blog ini. Ceritanya bebas. Boleh dengan gaya dan bahasa apa pun. Temanya juga bebas. Boleh politik, budaya, relationship, dan sebagainya. Barangkali dari celah cerita kalian ada manfaat yang bisa dipetik, atau kalau pun kalian menilainya nihil, setidaknya itu bisa menjadi bahan untuk kita bercengkrama lebih intim.

Well, aku tunggu tulisan kalian.