Ide dan prasangka

Entah sudah berapa kali hal ini terjadi. Aku duduk di depan laptop, berniat menulis dua sampai tiga halaman, tapi tak satupun kata ku tulis. Inspirasi seakan mandeg. Lintasan pikiran tak tahu kemana. Padahal semua baik-baik saja sebelum aku membuka laptop dan duduk di depannya. Apakah kamu mengalami hal yang sama? ketika hendak menulis tidak ada ide, tapi ketika tidak ingin justru ide itu bermunculan? Jika demikian, mulai sekarang baiknya kita tulis ide-ide itu selagi dia muncul.

Saat dalam perjalanan naik kendaraan, aku sering mendapati diriku menerima banyak ide. Seperti ilham yang entah datang dari mana. Tapi hadirnya sebentar saja. Setelah sampai di tujuan dan turun dari kendaraan, ide itu hilang entah kemana. Sepertinya kita memang harus langsung menulisnya setiap kali ia datang.

Itu soal ide. Lalu bagaimana dengan masalah satu lagi, yaitu pemikiran tentang pendapat orang lain? Kala ide itu telah selesai dituliskan, kita jadi berpikir, bagaimana pendapat orang lain? Apakah aku tampak bodoh dengan tulisan ini? Apakah ini benar-benar sesuatu yang ingin ku tulis? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kita mulai meragukan tulisan kita sendiri.

Sepanjang perjalanan menulis selama ini, beberapa tulisan sebetulnya bukan tulisan yang ingin ku tulis. Aku bahkan menyesal telah menulisnya. Tapi apa yang ada dibenakku, rupanya bertentangan dengan kenyataan. Beberapa teman yang membacanya justru senang dan bilang bahwa aku harus terus menulis yang seperti itu. Ada juga tulisan yang ku “kira” benar-benar ingin menulisnya, rupanya bukan yang benar-benar ingin aku tulis. Ternyata, prasangka itu bukan kenyataan ya teman-teman. Prasangka lebih sering terjadi karena kita salah paham dengan diri sendiri. Merasa seolah akan dipermalukan saat bicara atau menulis sesuatu. Seolah seluruh dunia memperhatikan kita, padahal setiap orang tidak hidup dalam kesadaran yang sama.

Kalau begitu, ketika hendak menulis sebaiknya kita berfokus ke dalam ya teman-teman. Hilangkan prasangka. Kosongkan diri dari apapun selain Tuhan. Sehingga kita jadi yakin bahwa apa yang kita tulis bukanlah tulisan yang terkesan ingin menjelaskan atau membuktikan, bukan pula karena tekanan orang lain, melainkan tulisan yang dijamin oleh Tuhan.