Ketika kamu takut sesuatu, maka sesuatu itu harus diperjelas

Ada sebuah penggalan yang menarik dari satu buku yang sudah dua kali selesai kubaca, kalau kamu takut sesuatu, maka sesuatu itu harus diperjelas. Kalau kamu takut sesuatu, maka sesuatu itu harus dihadapi. Oiya, perkenalkan, namaku Sutedi Agas. Kalian bisa memanggilku Tedi.

Ketika SMP dulu, aku adalah anak yang pemalu. Selalu kikuk ketika bertemu orang baru, apalagi lawan jenis. Hal itu mungkin karena di masa itu, aku terlalu asik membaca dan menyendiri, sampai lupa berinteraksi. Satu hal penting yang terlewati.

Aku tidak punya teman perempuan. Temanku semuanya laki-laki dan mereka murni laki-laki, tidak bengkok. Aku juga tidak sering tampil di depan umum. Wajar saja jika kemudian aku menjadi anak yang pemalu. Tapi jika menengok ke belakang, aku terharu juga. Betapa sudah banyak hal konyol dan bodoh yang ku lakukan dan lebih banyak lagi hal yang tidak enak. Dan dari semua potongan-potongan yang terekam, yang paling teringat adalah ketika pertama kali punya pacar. Ya, ajaib memang. Laki-laki pemalu bisa punya pacar.

Waktu itu aku kelas tiga SMP. Di lapangan yang terletak di sebuah kompleks di daerah perumnas 1, aku dan teman-teman sering bermain bola disana. Setiap sore, rutin. Lapangan itu bernama lapangan Pak Ujang. Mungkin karena lapangan itu dekat rumah Pak Ujang. Atau karena memang lapangan itu punya Pak Ujang? Tak tahulah.

Ngomong-ngomong soal bola, aku jadi ingat tentang peraturan dalam permainan itu dimana tim yang kebobolan harus membuka bajunya setengah lengan. Namun, peraturan itu tidak berlaku buatku. Bukan karena aku enggan membuka baju, melainkan karena sejak kecil aku terbiasa memakai pakaian tertutup (bahkan saat bermain bola aku pakai jeans dan baju lengan panjang), dan mereka mungkin telah memaklumi sehingga membiarkan aku tidak membuka baju. Tentu dengan sedikit ledekan,”Tedi mah gausah, aurat”. Sialan.

Lalu ada satu hari dimana aku bertemu seseorang. Namanya Dita. Dita adalah temannya temanku, Mega. Rumahnya tidak begitu jauh dengan lapangan Pak Ujang. Sehingga aku sering bertemu dia saat hendak ke lapangan. Waktu itu Mega ulang tahun. Beberapa teman sekolahnya datang ke rumahnya dan membuat kejutan. Pada hari itulah aku bertemu Dita. Dan di hari-hari berikutnya, menjadi dekat.

Terus terang, aku tidak mengerti mengapa aku bisa bertemu Dita. Kami tidak satu sekolah, tidak pula satu perumahan. Tapi kenapa dipertemukan? Bahkan hingga akhirnya jadian. Ya, meskipun hanya beberapa bulan kemudian putus karena aku pikir aku tidak butuh pacar. Tapi kenapa harus Dita? Jika Tuhan iba dan ingin membantuku menyelesaikan sifat pemaluku, bukankah ada banyak anak perempuan di kompleks itu? Mengapa harus Dita? Lagi pula, aku tetap saja anak yang pemalu walau dengan Dita. Aku menolak ajakan (tersirat)nya datang ke sekolahnya. Aku juga tidak mau pergi nonton Harry Potter. Bahkan Aku pernah mengantarnya pulang tanpa berkata sepatah pun.

Waktu itu Dita kehujanan dan Mega memaksaku untuk mengantarnya pulang. Maka jadilah aku mengantaranya pulang. Dengan motor Spin butut setiaku, aku menyusuri perumnas 2 hingga Griya. Tidak cukup aku yang mematung tanpa suara, baut knalpotku tak henti-hentinya berbunyi tiap bertemu jalan rusak. Heuh. Hingga akhirnya tiba di depan rumahnya, dan dita bertanya hendak mampir atau tidak, aku hanya menggeleng lalu melengos pergi.

Itu adalah kejadian 7 tahun yang lalu. Kemarin, saat liburan semester, sebelum dia kembali ke malang, aku memberanikan diri berkunjung ke rumahnya. Aku bilang kalau aku punya buku yang dita harus baca. Ya, itu hanya alasan yang ku buat-buat saja untuk bertemu. Tapi dita mengiyakan dan akhirnya kita bertemu. Hari itu, Ibu dan Ayahnya juga ada. Ku salami Ayahnya. Tidak ku lepas sebelum ia melepasnya. Ku sapa Ibunya, yang berdiri di pintu. Menerka-nerka siapa orang yang datang ke rumahnya. Dan akhirnya kulihat senyum itu lagi.

Aku merasa menang. Betapa sudah lama sekali aku pernah jadi kanak-kanak.