Kopi Arabica dan Sarah

Setelah saling serang dan sindir, akhirnya kedua calon presiden itu pun berpelukan. Sampai terharu aku dibuatnya. Tidakkah simpatisan kedua belah pihak itu hendak lakukan yang sama? Lelah aku melihatnya.

Terus terang, aku agak kesal juga. Sudah banyak sumber kesenangan-kesenanganku hilang gara-gara isu pemilihan presiden ini. Timeline twitterku, teman-teman pengajianku, sampai mbak-mbak warung, menjadi agak tertahan guyonannya. Dan yang paling menyedihkan: Sarah ikut-ikutan.

Aku tengah berbaring di atas kasur kesayanganku ketika kupikirkan hal itu lagi. Baiklah, kataku, aku harus membuka lembaran baru. Tanggal tiga aku kembali masuk kuliah, dan sepulang kuliah mungkin akan melipir ke bioskop kalau sempat. Sendirian tentu saja. Aku sudah terbiasa pergi nonton sendirian. Tapi, sekarang, malam Minggu, bukankah lebih baik cari teman kencan?

Wajah manis seorang gadis tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, seperti potongan klip iklan yang memotong tanpa permisi sebuah MV di Youtube. Ia tersenyum mendendangkan sebait lagu Sisitipsi,”Oh daripada begitu, baiknya kau sama aku. silahkan dicoba dulu, aaaa…”

Aku membalas senyumnya dan segera keluar rumah menuju base camp yang masih sepi, membuka ponsel, dengan rokok bertengger di bibir.

Desi, nama gadis itu. aku sudah menyimpan nomornya sejak SMP. Barangkali dia mau diajak kencan? Siapa tahu. Aduh, tiba-tiba aku jadi grogi. Membetulkan posisi duduk, berkali-kali, seperti orang sakit pinggang. Rokok yang kuhisap sedari tadi serasa sia-sia. Tapi malam ini malam Minggu, dan tanggal tiga aku kembali ke kampus, aku tidak mau sendirian.

“Kalau kamu berani, kamu melakukan.” Kata, Hans.“Kalau kamu takut, kamu beralasan.” Lanjut Hans.

Hans adalah orang yang suka tiba-tiba datang dan menghilang sambil mengatakan kata-kata bijak ketika aku sedang grogi, minder atau takut.

“Kamu bisa ga sih ga dateng tiba-tiba gitu?” balasku pada Hans. Tentu saja dalam hati.

“NGGA, HAHAHA” jawab Hans, menghilang.

__

Kalau kamu berani, kamu melakukan. Yeah. Benar kamu Hans. Baiklah.

Ku buka kontak dan mulai menelepon. 082346571xxx.

“Hallo?”

“Hallo” Kataku. “Bisa bicara dengan Desi?”

“Oh, Mbak Desinya keluar sama Mas Gugun. Ini Ponselnya ketinggalan. Mau titip pesan?”

“Iya Mbok. Pesan Es Teh sama Roti bakar Cokelat ya.” Jawabku asal sambil menutup telepon dengan lemas.

Hancur sudah gambaran indah kencan dengan si manis Desi malam ini. Aku bersandar ke sofa. Mendongakkan kepalaku ke arah langit-langit. Tidak! Aku masih punya nomor telepon gadis lain. Risma. Tidak betul-betul cantik, tapi aku senang sekali melihatnya bicara. Tenang dan bernada. Beruntung sekali kalau dia mau menjawab teleponku dan mempersilahkan aku main ke rumahnya.

Maka kubuka kembali kontak di ponselku. 085676548xxx.

Tuut, tuut, tuut.

Tanda peringatan, terdengar suara perempuan,”Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi ….”

“Maaf, Nona, Kalau begitu, maukah kau kencan denganku? Aku akan…”

“The destination you are calling ….”

Lagi-lagi kututup telepon dengan lemas.

__

Kemudian aku singgah di kedai kopi tempat bekerja seorang teman. Hanya berdua saja dengan si teman pekerja itu. Katanya, memang selalu sepi kalau jam segini. Baru ramai selewat jam sembilan malam. Aku mengangguk kecil, sambil bergumam “oh” dengan pelan. Aku sedang tidak ingin bicara.

Aku makan mie instan pakai telur dan minum segelas kopi Arabica tanpa banyak bicara. Dengan –lagi-lagi- rokok di tangan. Kepala menunduk memandangi ponsel, tak tahu mau berbuat apa. Pulang? Tidak. Itu bukan ide yang bagus. Paling-paling aku hanya menghabiskan malamku dengan headset dan lagu-lagu yang sudah ratusan kali ku putar. Tak sudi aku pulang hanya berbaring sepanjang malam.

Maka kubaca tweet yang bersliweran di timelineku lalu kulihat foto Shania Jkt 48 di-retweet oleh seorang teman. Dia memang penggila Jkt48. Aneh memang, padahal dia laki-laki. Tapi mungkin juga karena dia laki-laki maka dia suka Jkt48. Foto itu mengingatkanku pada seseorang yang punya senyum dan pipi seperti itu.

Sarah, yang ikut-ikutan isu pemilihan presiden itu, betul-betul punya senyum yang bisa bikin mabuk kepayang siang dan malam, dalam sekali lirik. Dengan pembawaan cuek yang dibuat-buat, Sarah adalah tipikal menggemaskan. Sayang sekali dia ikut dalam pusaran menyebalkan itu, dan aku masih ingat kala dia bilang,” #2019gantirakyat” sementara aku,”Owi200periode”. Sebetulnya, tidak apa-apa apabila dia hendak berpolitik. Tapi Sarah dulunya tidak seperti itu. dan banyak hal-hal yang kemudian ikut berubah juga. Ia asik dengan dunianya sendiri. Membuat dia tidak punya waktu lagi untuk minum kopi bersama teman-teman yang lain di kantin FST. Bahkan tidak juga untuk sekadar tegur sapa di media sosial, membahas tentang apa saja.

Boleh jadi kini dia punya punya kekasih, karena dia pernah bilang akan menjual dirinya di pasar bebas apabila teman minum kopinya tidak juga bilang cinta padanya. Heuh, menjual diri di pasar bebas. Pemilihan kata macam apa itu? ada-ada saja.

Lagipula, teman ngopinya yang mana? Teman ngopinya kan banyak. Aku juga salah satunya. Tapi tentu saja aku bukan tipenya. Sedari awal teman-temannya bilang bahwa bekas pacarnya saat SMA adalah populer dan tampan. Setiap posting foto di Instagram, kolom komentarnya penuh oleh gadis-gadis yang minta diperhatikan. Sampai ada yang buka lapak jual pil peninggi badan dan kerudung malah.

”Cek IG stories kami sis”. Gila. Aku jelas bukan tipenya.

Tapi diam-diam Aku memikirkannya lagi. Kerinduanku muncul tanpa bisa dicegah, membuat aku jadi malu sendiri. Tunggu dulu, siapa tahu dia sedang tidak ada sesuatu untuk dikerjakan malam ini? Dan butuh penghiburan? Sehingga aku dan Sarah, bisa kencan malam ini. Tidak ada salahnya mencoba.

Termakan oleh gagasan itu, aku jadi bahagia kembali. Malam mingguku masih punya peluang untuk tidak terasa basi. Apalagi membayangkan Sarah kembali seperti dulu lagi, dengan berpakaian rumah yang serasi. Sungguh, kalau itu terjadi, akan kukatakan kalau aku telah lama menyukainya, dan mau mejadikannya satu-satunya. Tidak apa-apa aku bukan tipenya, lalu ia menolak dan kita tetap berteman.Aku jadi bergairah, bahkan agak berpikiran liar, dan segera kuberi selembar uang dua puluh ribuan kepada si teman pekerja kedai kopi.

“Sisanya ambil aja, Lik!” kataku, dengan bersemangat.

“sisa apaan? Kurang goceng, bray!”

Aku nyengir dan kuberi ia uang lima ribu.

Lalu kubuka kontak, dan segera menelepon. 0821456789xxx

“Hallo?”

“Iya, dengan siapa ya?”

“Kamu lupa suaraku?”

“Ya Allah, Ted. Ganti no mulu, ih. Apa kabar? Sehat kan? Masih sering ke kampus?”

Aku terenyuh mendengar bicaranya yang bernada. Jantungku berdetak cepat oleh sambutannya yang ramah.

“Alhamdulillah, sehat. Sudah jarang, Sar”

“masih suka ngopi?”

“masih”

“Masih suka Oasis?”

“Masih.”

“Baguslah,” katanya.”lalu apa sekarang kesibukanmu?”

“Yaa beginilah” Kataku, dengan nada yang sungguh tidak jelas.”Nulis cerpen walaupun tidak akan jadi penulis. Main gitar walaupun tidak akan jadi musisi. Lalu luntang-lantung tak jelas padahal skripsi belum juga tuntas….”

“Mainlah kesini kalau kau mau!”

Trikku bekerja!

“Aku punya sekotak Arabika tinggal seduh untukku dan Kapal Api seribuan untukmu.” Katanya meledek.

“Baiklah.” Kataku tanpa basa basi.

__

Kuarungi jalan raya yang gelap dan sepi sambil kunyanyikan “Roll With it!” Oasis dengan kencang, tapi segera kuhentikan karena aku merasa perlu lagu yang santai dan romantis. Maka kuganti dengan “Aroma Dia” Sisitipsi.

Dalam dua puluh menit, aku sudah sampai di kediaman Sarah. Lalu kuucap salam sambil mengetuk pintu pagar.

Pintu terbuka.

“Hai, Sar.” Kataku polos.

“Dibuka dulu dong topengnya.” Katanya.

Aku diam. Tak mengerti.

“Aku bilang buka topengnya” ia mengulangi.

“Aku tida pakai topeng!” Aku bingung.

“Tawanya yang manis kudengar lagi.”Maaf ya, aku lupa kamu kayak badut.”

Aku nyengir sambil duduk di kursi yang ada di teras depan rumahnya.

Ia duduk di kursi yang lain, pada posisi 45 derajat dari posisi dudukku. Dengan malu-malu kutatap wajahnya. Ia masih cantik seperti awal aku melihatnya saat ospek dulu. Tak terasa kini ia sudah lulus dan aku menginjak semester 9. Walaupun ada perubahan sedikit. Dulu rambutnya pendek, kini rambutnya tak terlihat karena terhalang kerudung. Dia berkerudung sekarang.  Tanpa bisa kucegah, mulutku berkata memuji:

“Kerudungnya cantik, Sar!”

“Kenapa cantik?”

“Iya, cantik, karena kamu yang pakai. Kalau orang yang pakai, jadi tida cantik.”

Ia menoleh padaku, dan ada kulihat rona merah dipipinya. Tapi matanya tidak menunjukkan sikap yang malu-malu, seperti dulu waktu pertama kali kupuji.

“Alah, pencerita!” katanya.”Habis ini mau nulis Haha-Hihi apa lagi?”

Aku cuma tertawa.

“Tapi ….” Kataku.”Sekarang agak subur ya Sar. Naik berapa kilo?”

“Iya nih. Semenjak ada S.Si dibelakang namaku bawaannya pingin makan mulu haha.”

Di atas pohon, di kejauhan, aku melihat Hans memperhatikan.

2018