Literasi

                                                Sumber gambar: literasi.jabarprov.go.id

Di suatu sore, ketika sedang duduk-duduk, gua mengeluarkan sebuah buku yang biasa gua baca. Tak lama berselang, ada seorang teman datang lalu duduk di sebelah gua. Melihat beberapa teman yang lain asyik dengan ponselnya, dia pun ikut membuka ponselnya. Lalu dia melihat ke arah gua. Tepatnya buku yang sedang gua baca. kemudian berujar,”ngapain lu? Gaya-gayaan.”

Hening.

Gua diam. Gatau harus jawab apa.

Dia bilang gitu dengan raut wajah bingung. Seolah apa yang dia lihat saat itu merupakan suatu pemandangan yang asing. Yang jarang dia lihat setiap harinya. Pada saat itu gua tidak menjawab, hanya tersenyum kecil, sambil berujar dalam hati,”Inilah tingkat literasi di Indonesia.”

People can’t be what they can’t see. Ya ga sih? Kamu tidak akan bisa jadi seperti Einstein, kalau kamu tidak “kenal Einstein”. Kamu tidak bisa seperti Cholil Mahmud kalau kamu gatau Band Efek Rumah Kaca. Begitu juga dengan kesenangan membaca. Kamu tidak akan seperti si fulan yang senang membaca, jika kamu tidak pernah melihat ada orang yang senang membaca di sekitarmu. Atau setidaknya melihat ada bahan bacaan yang bisa untuk dibaca.

Padahal, membaca itu penting. Literasi itu penting. Tidak usah muluk-muluk soal literasi. Mengetahui rambu lalu lintas berwarna merah  sebagai tanda berhenti dan hijau sebagai jalan terus, itu literasi. Jangan tidur di pagi hari karena tidak baik untuk kesehatan, itu literasi. Jangan seks ganti-ganti pasangan sembarangan, itu juga literasi. Simple. Bisa dibayangkan suatu negara dengan masyarakat yang tingkat literasinya kacau?

Tengoklah Finlandia, German, Jepang, US, dan negara-negara maju lainnya. Disana, orang-orang biasa menyelesaikan beberapa buku sebulan. Lalu lihat hasilnya, sebuah peradaban yang maju dan toleran. Eit, jangan-jangan keterpurukan dan intoleransi di negara ini karena parahnya tingkat literasi? Bisa jadi. Apalagi di era demokrasi sekarang ini, kualitas pikiran tiap individu menentukan siapa yang akan jadi pemimpin. Ah, demokrasi. Ngantuk saya. Saya mau bikin kopi dulu.