Q&A

Tok tok tok, assalamu’alaikum. Selamat pagi sobat-sobat menara gading aq. Oke, cukup. Kali ini gua mau adain Q&A sama diri gua sendiri. Ya abis ga ada wartawan yang mau nanyain sih. Akhirnya, gua nanya dan jawab sendiri deh. Langsung aja yuk, here they are:

  1. The Beatles atau The Rolling Stones?

Rolling Stones.

2.  Vespa atau Moge?

Vespa dong.

3. Suka kopi?

Suka banget!

4. Kopi hitam atau kopi susu?

Kopi hitam. Saya kalau kopi susu suka berasa ga lagi ngopi. Jadi kopi susu kalau lagi pengen minum susu aja.

5. Oh gitu. Kopi susunya pake es ga?

Kalau ga pake es, jadi kopi uu dong. Hehe lawakan kayak gini harusnya udah punah dari peradaban sih.

6. Bikin kata-kata tentang kopi dong!

Tidak ada yang lebih bijak dari kopi hitam. Ia tidak pernah bersikap manis. Tidak pula bicara hanya karena takut tidak bicara. Ia bahkan lebih bijak dari majikannya. keren ga? Wkwk.

7. Wkwk bisa bisa. Kalau pacar punya?

Kenapa? Kamu mau jadi pacar aku?

8. Merokok?

Bagaimana ya? Kadang merokok, kadang ngga.

9. Merokok kan ga baik?

Emang siapa yang bilang baik? saya bukan tipe yang bilang ngerokok ga ngerokok mati kok. Lagi pula ga baik itu hanya istilah lain dari realistis sih. Setidaknya itu yang ada dalam sistem nilai saya.

10. Penulis favorit?

Eka Kurniawan.

11. Why?

Tulisannya kuat dan berani. Out of the box namun tetap rendah hati.

12. Apa quote favoritmu dari Eka Kurniawan?

Banyak. Dia kan nulis novel, jadi bentuk quotenya kebanyakan dari tokoh yang dia buat. Tapi kalau harus memilih satu, aku akan pilih ini: Penulis dengan rezim hak ciptanya udah jelas kapitalis.

13. Dari dulu kayaknya kamu ngga suka ya kapitalis? Kenapa sih?

Ya iyalah. Kapitalis itu ngga punya sisi manusiawi sama sekali. Kalau ada orang bilang kapitalis udah jadi humanis, dia ngga paham kapitalis secara sungguh-sungguh. Atau mungkin bahan bacaannya hanya sepotong-potong. Mengutip dari motivator anu, atau penulis anu. Ngga belajar dan diskusi lagi sama para aktivis pergerakan yang referensinya lebih jelas. Kurang gaul, kurang membumi.

14. Tapi kan kamu sendiri sering diuntungkan dalam sistem ini? apa ga malu?

Hei, kata siapa saya diuntungkan? Lebih banyak dirugikan dong. Kan saya rakyat biasa. Bukan yang punya banyak apartemen kayak si anu. Lagi pula, betapa pun kita diuntungkan oleh sistem ini, tidak serta merta kita boleh mengatakan sistem ini sudah jadi humanis. Itu menyakiti perasaan orang-orang pinggiran dan melukai spirit pergerakan para aktivis terdahulu.

15. Terus tentang hak cipta?

Saya rasa manusia terlalu sombong dengan menganggap dirinya sebagi pencipta. Padahal manusia hanya menyalin, menghimpun, dan menyusunnya kembali. Seandainya saya seorang penulis, saya akan baik-baik saja apabila ada yang mau memfotokopi buku saya. Silahkan sebarkan seluas-luasnya jika memang ada manfaatnya (sepertinya mustahil sih). Asalkan tidak untuk memperkaya diri sendiri.

16. Oh begitu. Ya gapapa kalau kamu berpikiran demikian. Itu hak kamu. Btw, kenapa jadi serius gini ya? Yang santai-santai aja dong. Oke, coba sekarang kita mengkhayal sejenak. Seandainya kamu jadi perempuan, akan seperti apakah kamu kira-kira?

Haha. Emh mungkin saya akan jadi perempuan nyentrik yang suka dengan musik. Lalu naksir dengan lelaki yang ngga ganteng-ganteng amat tapi matang dan menarik. Sesekali saya akan minta diajak jalan-jalan naik vespa dan nonton konser. Ngga usah yang mahal-mahal. Kan kita pura-puranya anti kapitalis HAHA.

17. Ada impian kecil yang belum tercapai? Kalau ada ceritakan.

Ada. Manggung! Entah kenapa tiap liat orang beraksi di atas panggung, saya merasa bisa lakuin hal yang sama. Saya bisa main musik dan punya selera musik yang bagus. Jadi, saya merasa bisa lakuin sesuatu yang menghibur. Pengen banget pulang larut malam sambil nenteng bass abis manggung suatu saat. Abis itu masuk kerja layaknya manusia normal.

18. Ada nasihat yang ingin disampaikan?

Widih, nasihat. Siapa saya kasih-kasih nasihat? Hehe. Kalau boleh kasih nasihat sih saya bilang, jadilah orang yang sadar. Itu aja. Kalau kamu mahasiswa, sadarlah. Belajarlah. Ngga usah ngikutin passion ini itu yang terkesan rumit dan memberatkan. Belajarlah mencintai apa yang kamu hadapi. Kalau kamu anak fisika misalnya ya belajarlah mencintai fisika. Atau kalau kamu bukan mahasiswa, karyawan misalnya, ya sadarlah. Bekerjalah dengan tulus. Kamu mungkin bukan yang berpangkat tinggi. Tapi yang pangkatnya tinggi itu juga ga ada artinya kalau ga ada kamu. Jadi ga boleh rendah diri dan mengeluh. Itu aja sih.