Random

Mulai sekarang, agaknya kita tidak perlu lagi berpura-pura bahwa kita memang kolot dan cinta filsafat. Senang politik dan karya-karya klasik.

Penerimaan itu bukan saat semua baik-baik saja. Penerimaan terhebat adalah justru kala semuanya memburuk. Ketika kita mulai sadar akan ketidakberdayaan, dan kenyataan bahwa dalam hidup ada rasa pahit, disitulah saat yang tepat untuk memeluk semua yang telah terjadi.

Dalam melakukan kebaikan kita memang belum tentu akan menjadi signifikan. Tapi sudah pasti menghindari kita dari keburukan. Makanya, kalau ingin berbuat baik jangan kebanyakan mikir. Sebaliknya, kalau mau berbuat buruk, pikir ribuan kali. Cieilah.

Kecenderungan kita untuk diterima membuat kita kecewa. Daripada berharap diterima, lebih baik berharap ditolak. Sama saja kan? Jika untuk mendapat “ya” kita perlu sepuluh kata “tidak” terlebih dahulu, maka ketika mendapat kata “tidak” jadinya senang, karena tahu kata “ya” semakin dekat. Kalau begitu, kuncinya adalah bertemu banyak orang.

Kata orang, lebih dari dua minggu cenderung murung, itu tanda depresi. Sialan, gua udah 4 tahun cenderung murung. Terhitung sejak awal kuliah. Kalau gitu, gua bukan depresi lagi, tapi apa dong? Tapi kalau dipikir-pikir gua kuat juga. Kalau orang biasa mungkin udah celeng. Nah, dapet satu kesadaran lagi kan, bib?

Rata-rata umur manusia saat ini sekitar 60-70 tahun. Kalau sekarang usia kita 21 tahun, maka masih ada sekitar 40-49 tahun. Masih terlalu lama untuk disebut sisa hidup. Dan kita tidak perlu lagi berpura-pura kalau kita tidak puas dengan apa yang ada sekarang. Dengan berbagai alasan, mulai dari yang heroik sampai pragmatis, kita tidak puas. Harusnya kehidupan bisa lebih baik dari ini. Baik bagi kita maupun bagi yang lain. Tapi bukan berarti juga kita menolak mengakui bahwa kita banyak khilaf dan takut. Kita takut, tapi tidak punya pilihan lain selain berani.

Di Iran sana, ada Ahmadinejad. Pemimpin yang berani dan sederhana. Tidak menerima gajinya sebagai kepala negara, melainkan hanya mengandalkan gajinya sebagi dosen. Tidak pula menggunakan fasilitas negara yang disediakan. Rumahnya pun masih sama seperti dulu sebelum menjabat presiden. Baginya, menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan bagi rakyat. seorang pemimpin haruslah setia pada rakyatnya. Begitu katanya. Saya jadi berpikir, untuk mendapat pemimpin seperti itu, harus seperti apakah kita?

Ngga apa-apa ngacak. Yang penting orisinil. Yoi.