Senja Bersama Bintang

Saya percaya bahwa setiap orang yang menempuh perjalanan pasti punya sesuatu untuk diceritakan. Seperti ketika saya pergi ke sebuah acara bedah buku kemarin, saya jadi punya sesuatu untuk diceritakan.

Bedah buku kemarin adalah bedah buku Senja di Mata Bintang, karya Dhea Candra. Terus terang, saya tidak tahu siapa itu Dhea Candra. Belum pula membaca bukunya. Satu-satunya hal yang membuat saya akhirnya datang ke acara tersebut adalah karena ajakan seorang teman.

Dika, teman dekat sejak SMA mengajak saya untuk datang ke acara tersebut. Berhubung saya tidak punya sesuatu untuk dikerjakan (dan ingin membeli buku) akhirnya saya mengiyakan ajakan tersebut.

Ngga kok, Dika bukan tipe orang yang suka baca novel. Dia tipe-tipe Mario Teguh gitu deh. Sukanya baca-baca buku pengembangan diri. Kenapa dia bisa mengajak saya ke acara tersebut adalah karena kakaknya bekerja di penerbit BACA. Penerbit baru yang mengadakan bedah buku kemarin.

Awalnya, saya mengira bedah buku itu akan terasa membosankan. Pembicara akan bicara itu-itu saja, audiens akan bertanya pertanyaan standar, dan lain-lain yang biasa. Tapi dugaan saya agaknya meleset sedikit. Ternyata bedah bukunya lumayan seru dan memberi, ehm, inspirasi.

Waktu itu, Kak Dhea menjelaskan sedikit tentang novel Senja di Mata Bintang. Novel itu bercerita tentang Gema (seorang perempuan baik, pintar, bahkan cantik) yang jatuh cinta kepada Bintang (seorang lelaki yang memiliki gangguan psikis). Saya lupa istilah ilmiah gangguan psikis tersebut. Tapi yang jelas itu berkaitan dengan ketidakmampuan mengendalikan emosi.

Meskipun begitu, Bintang bukan tidak punya kemampuan. Dia termasuk yang berwawasan luas dan berpikiran mendalam. Hal itu terlihat kala dia berbicara tentang amerika, dia menjelaskan secara detail amerika. Lalu ketika berbincang tentang senja, dia menjelaskan secara ilmiah bahwa senja adalah polarisasi cahaya bla bla bla. Bintang, lanjut Kak Dhea, bagai wikipedia berjalan. Dan itu barangkali yang membuat Gema jatuh cinta.

Agak aneh memang, bagaimana seorang yang mendekati ideal dapat menyatu dengan seorang yang -dalam sistem nilai masyarakat- “cacat”. Tapi begitulah cinta. Bukankah cinta adalah bahasa universal? Bukankah kutub utara dan selatan dapat saling menarik justru karena berlainan?

Gema adalah perempuan yang memandang manusia sebagai manusia. Begitulah yang saya tangkap kala Kak Dhea bercerita dan terus bercerita. Ketika perempuan memandang lelaki sebagai manusia, maka perempuan tidak akan melihat lelaki hanya dari sekadar fisik. Pun lelaki apabila memandang perempuan sebagai manusia juga, maka lelaki tidak akan memaksakan kehendak.

Ah, saya jadi iri. Pasti menyenangkan sekali memiliki relasi antar manusia. Relasi yang lebih tinggi dari relasi antar lelaki dan perempuan. Dan jadi kesal juga, karena tampaknya novel Senja di Mata Bintang, masuk ke dalam list untuk dibeli.