Tuhan tidak kurang ajar

            Hari ini, tertanggal 24 Juli 2018, gua ingin mendeklarasikan bahwa gua mencintai diri gua sendiri. Sudah 6 hari ini setelah ulang tahun kemarin (18 Juli 2018) gua mencoba hidup normal seperti seharusnya. Sebagai mahasiswa fisika, maka gua belajar fisika (meskipun dikit). Datang ke kampus, dan ngurusin hal-hal yang kalau bukan gua yang ngerjain maka ngga akan ada yang ngerjain. Tau apa? Ternyata hasilnya ruar biasa! Gua jadi lumayan sibuk dan ga punya waktu untuk galau nih gais. dan pastinya nanti akan lebih sibuk karena di semester 9 ini gua banyak yang ngulang. Syedih.

…………….tapi ngga sedih deng. Apa-apa yang luput, terkompensasi pada hal-hal lain. Yeay.

            Anyway, Sepanjang perjalanan hidup selama dua puluh dua tahun ini, gua belajar bahwa ternyata hidup itu bukan soal bakat-bakatan gais. Tapi membakati apa yang dihadapi. Gua sudah sampaikan ini sebelumnya. Tapi gua baru memahami maknanya saat ini. Hidup itu damai dengan mensyukuri apa yang sudah kita punya, bukan dengan mengejar apa yang tidak kita punya. Pada kasus gua, ternyata apa yang belum gua miliki tidak bisa mengalahkan apa yang sudah gua miliki sih. Kesini-sini gua merasa apa yang ngotot gua kejar kaga terlalu penting juga kayaknya.

            Selain itu, gua jadi paham bahwa ternyata bersaing itu harus. Tapiiii dengan diri sendiri. Selama ini gua akui kalau gua masih salah dalam cara-cara. Cara hiduplah, cara bersikaplah. Lalu gua membandingkan diri gua dengan keberhasilan orang lain. Jadi minder deh. Tapi setelah merenung, gua ngga seburuk apa yang gua pikirin kok. Adalah salah apabila gua membandingkan kekurangan gua dengan orang lain. Mereka boleh jadi punya kelebihan yang ga gua miliki. Pun sebaliknya, adalah salah apabila gua membandingkan kelebihan gua dengan orang lain. Itu sombong namanya. Jadi, bersaing itu baiknya dengan diri sendiri gais. Misalnya, kalau kemarin masih suka lepas kendali, lalu hari ini lebih terkendali, nah itu berarti kemajuan. Kalau kemarin masih bercanda norak lalu sekarang bisa bercanda tanpa kehilangan konsentrasi, itu kemajuan. Gitu guys. Intinya lebih baik dari kemarin.

              So, pada kesempatan kali ini, izinkan gua berterima kasih untuk diri gua sendiri. Dua puluh dua tahun itu bukan hal yang remeh. Ada banyak drama yang kalau ditulis mungkin udah jadi puluhan novel berseri. Tapi gua berhasil. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, gua selalu lulus. Rupanya Tuhan tidak kurang ajar. Dia hanya ingin gua belajar. Layaknya guru saat ujian, Dia memang tidak perlu memberitahu jawaban.

Habiburrahman, 22 tahun.