Waktu

Waktu adalah “Seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, maupun yang akan datang”, demikian Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertiannya.

Dalam Al-Qur’an, kata waqt (waktu) ditemukan tiga kali, hanya saja konteks penggunaan dan makna yang dikandungnya tidak sama dengan apa yang dikemukaan di atas. Kata tersebut digunakan dalam konteks pembicaraan tentang masa akhir hidup di dunia ini. Dari sini, dan setelah menelusuri seluruh bentuk kata lain yang berakar pada waqt, para pakar akhirnya menyimpulkan bahwa waqt adalah batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk bekerja. Demikianlah waktu yang dikaitkan dengan kerja.

Saya pikir, Islam adalah agama yang menaruh perhatian besar terhadap waktu. Hal itu dapat dilihat dari larangan tidur di waktu pagi dan sore. Ditambah hadits yang intinya menyatakan bahwa Rasulullah saw. membenci percakapan selepas shalat isya. Beliau terbiasa tidur di awal malam dan bangun di awal pagi.

Hal-hal di atas tentu mengarahkan pemeluknya untuk produktif. Pagi dan sore yang tidak digunakan untuk tidur, bisa digunakan untuk hal lain seperti belajar, berolahraga, bermain musik dan sebagainya. Malam yang tidak digunakan untuk percakapan ngalor ngidul, bisa digunakan untuk istirahat, membaca buku, atau aktifitas ringan lainnya.

Konsekuensi logis dari ajaran ini adalah efisiensi dan efektifitas. Apabila pemeluknya bergepang teguh pada ajaran ini, maka mereka akan jadi kaum yang unggul. Sehingga jika kita bicara tentang kebangkitan Islam, maka itu merupakan suatu keniscayaan.

Masalahnya, apakah pemeluknya mau bangkit? Atau malah lebih senang hidup dengan selera rendah? Hm.

30 Mei 2018

Referensi:

Shihab, M. Quraish. 1994. Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan. Bandung. Mizan.